 |
LATEST
NEWS |
|
 |
6-, 2006
REKONSTRUKSI PELABUHAN MALAHAYATI – NANGGROE ACEH DARUSSALAM
Gempa berkekuatan 9 Skala Richter yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 sejarak 250 km di lepas pantai barat daya Aceh telah mengakibatkan terjadinya gelombang tsunami yang sangat hebat sehingga memporakporandakan hampir seluruh kawasan di tepi pantai yang berhubungan langsung dengan Samudera Hindia. Hampir seluruh sarana dan prasarana umum hancur dan tidak dapat berfungsi termasuk Pelabuhan Malahayati. Pelabuhan ini sangat besar peranannya dalam distribusi suplai bantuan makanan dan obat – obatan dari luar Aceh
Pada bulan Januari dan Februari 2005, Menteri Perekonomian Belanda atas nama pemerintah Belanda melakukan kunjungan ke Indonesia dan menawarkan bantuan kepada pemerintah Indonesia melalui Menteri Perhubungan untuk melakukan rekonstruksi Pelabuhan Malahayati. Selanjutnya pada tanggal 4 Juli 2005, sebuah perusahaan konsultan Belanda, Witteveen+ Bos diundang oleh pemerintah Belanda yang diwakilkan oleh Ecorys untuk mengajukan penawaran untuk paket pekerjaan yang meliputi desain dan konstruksi pada pekerjaan rekonstruksi pelabuhan tersebut. Sebagai realisasinya, Witteveen+Bos dengan PT. Decorient Indonesia bekerjasama dalam sebuah konsorsium melaksanakan tiap tahapan desain dan pekerjaan konstruksi. Konsorsium juga memberikan bantuan peralatan berat seperti mobile crane kapasitas 45 ton, forklift, dan flat-bed carrier untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan.
WIKA Beton mendukung sepenuhnya proyek ini dengan menyuplai seluruh komponen beton pracetak untuk struktur jetty yang jumlahnya sekitar 450 panel dengan bobot sekitar 4 sampai dengan 24 ton dan volume total 1.100 m3 beton. Seluruh panel yang diproduksi di Pabrik Sumatera Utara ini dibawa ke Aceh dengan menggunakan jalan darat yang berjarak sekitar 550 km.
Sistem beton pracetak untuk struktur jetty ini dipilih karena kualitas beton pracetak yang tinggi dan proses instalasi yang lebih cepat dan mudah jika dibandingkan dengan sistem cast in-situ.
|
 |
 |
 |
 |
|